Kamis, 23 Februari 2012

Mengkaji novel karya Mezra E. Pellondou


TUGAS

KAJIAN FIKSI

MENGKAJI NOVEL “NAMA SAYA TAWWE KABOTA”



OLEH



NAMA                    : ENI JOLA PEDI
KELAS                     : P
SEMESTER             : III
NIM                        : 1020717141






PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIV. PGRI NTT
KUPANG
2011
NOVEL                      : NAMA SAYA TAWWE KABOTA
PENGARANG         : MEZRA E. PELONDOU

Keterangan: huruf miring adalah kutipan novel



























KATA PENGANTAR


            Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas berkat dan penyertaan-Nya sehingga dapat menyelesaikan tugas mengkaji novel ini tepat pada waktunya. Tugas mengkaji novel ini sebagai tugas Ujian Akhir Semester  mata kuliah Kajian Apresiasi Fiksi pada Program Study Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Kupang.
            Saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang telah rela membantu saya dalam menyelesaikan tugas ini.
            Saya menyadari, bahwa pengkajian novel ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan rendah hati menerima kritik dan saran dari pembaca yang bersifat ilmiah demi penyempurnaan tugas mengkaji ini.




                                                                                          Kupang,  Desember 2011


                                                                                                      Penulis










BAB I
PENDAHULUAN

     A.        LATAR BELAKANG
                  Mengkaji karya fiksi merupakan salah satu cara untuk memahami dengan jelas apa yang terkandung di dalam karya itu sendiri. Karena bagaimanapun juga, karya fiksi merupakan proses pemikiran seorang pengarang yang belum tentu dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca apa maksud yang disampaikannya. Dengan mengkajinya, kesalahpahaman maksud yang ditujukan dari pengarang kepada pembaca tentu dapat dihindari. Sehingga suatu karya fiksi akan dapat dinikmati dengan mengutamakan tujuan adanya karya fiksi itu sendiri.
                   Dengan mengkaji kita dapat mengetahui gambaran unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik yang terkandung dalam novel “Nama Saya Tawwe Kabota”.
      B.        RUMUSAN MASALAH
            Berdasarkan latar belakang diatas maka yang menjadi masalah dalam pengkajian novel ini adalah
                              1.         Bagaimana caranya memahami karya fiksi?
                              2.         Bagaimana mengkaji unsur-unsur yang terkandung dalam novel?

      C.        TUJUAN
            Berdasarkan rumusan masalah diatas maka yang akan menjadi tujuan pengkajian novel “Nama Saya Tawwe Kabota” yakni:
                              1.         Untuk memahami kesalapahaman maksud yang ditujukan pengarang kepada pembaca
                              2.         Untuk memperoleh gambaran unsur-unsur yang terkandung dalam novel.

     D.        MANFAAT
            Manfaat dari mengkaji novel “Nama Saya Tawwe Kabota” adalah untuk dijadikan salah satu sumber dalam belajar kajian apresiasi fiksi.

      E.         LANDASAN TEORI
            Adapun teori landasan dalam pengkajian novel “Nama Saya Tawwe Kabota” yakni teori struktural yaitu teori yang melihat karya sastra sebagai suatu subjek yang otonom. Sastra sebagai karya otonom terdiri dari dua unsur penting yaitu
                              1.         Unsur yang membangun karya sastra dari dalam (intrinsik) yakni
                                                       a.            Tema
                                                      b.            Penokohan
                                                       c.            Latar/setting
                                                      d.            Alur/plot
                                                       e.            Sudut pandang
                                                       f.            Amanat
                                                      g.            Gaya bahasa
                              2.         Unsur yang membangun karya sastra dari luar (ekstrinsik) yakni
                                                       a.            Biografi pengarang
                                                      b.            Agama/keyakinan pengarang
                                                       c.            Keadaan subjektivitas pengarang
                                                      d.            Pandangan hidup pengarang














BAB II
KAJIAN FIKSI (NOVEL)

     A.        UNSUR INTRINSIK
1.   Tema
      Tema dari novel “Nama Saya Tawwe Kabota” karya Mezra E. Pellandou adalah “Adat perkawinan nenek moyang yang telah diyakini sanksi-sanksinya dan ritual melepas aib”.
      Berdasarkan kutipan novel:
Adat nenek moyang yang kuat dan telah kami yakini sanksi-sanksinya justru sangat kami pahami sehingga kami saling “menjaga” satu sama lain sebelum pernikahan diresmikan. Kami membuat sebuah janji di depan Merapu untuk mempertahankan kesucian itu, dan kami menyebut janji itu sebagai sumpah putih. Jika melanggar maka sesuai tuntutan adat Merapu, kami harus melakukan ritual melepas aib dengan upacara tawwe kabota agar tidak terkena sanksi kematian, cacat dan gila, baik terhadap kami berdua maupun anak-anak kami.(hal. 30)
2.   Penokohan
                                           a.            Bulu adalah tokoh utama dalam novel ini.
*      Berpengetahuan luas
Kutipan novel:
Otakmu brilian, Aku suka caramu bicara. (hal. 40)
*      Bersimpati terhadap orang lain
Kutipan novel:
Ibumu seorang hamba? Hamba sahaya? Menyedihkan sekali nasib ibumu, aku bergumam penuh simpati, meski mungkin tanpa kusadari.(hal. 54)
*      Baik
Kutipan novel:
Jangan pernah katakan, anda adalah ayahku. Aku tidak mungkin memiliki ayah sebaik anda. (hal. 97)
*      Tampan
Kutipan novel:
Ya, karena laut itu eksotis dan karena aku sangat tampan. (hal. 30)
                                          b.            Ghole: tokoh tambahan yang mendukung tokoh utama
*      Lembut
Kutipan novel:
Ghole, walaupun sangat lembut dan memiliki reaksi yang kuat terhadap perasaan seseorang, kejadian sekitar atau yang dialami, namun tidak pernah sekalipun ia nenitikan air mata. Maka kembali aku memikirkan Ghole. (hal. 22)
*      Anak paman/istri rumah tokoh Bulu
Kutipan novel:
Aku telah terikat adat dengan Ghole, anak pamanku. Setemat Sekolah Menengah atas di Sumba, Ghole meneruskan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, Bali. Aku telah lebih dahulu memilih jurusan Arkeologi di sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta. Semua kerabat dan sahabat tahu bahwa Ghole adalah “istri rumah”-ku. (hal. 29)
*      Sombong
Kutipan novel:
“Siapa ini Pak? Kenapa dibawa kerumah kita? Di sini bukan rumah sakit apalagi panti social”. (hal. 97) 
                                           c.            Kalli: tokoh tambahan
*      Berpengetahuan luas
Kitipan novel:
Aku menggeleng kepala. Dalam hati aku kagum pada pengetahuannya yang luas. Namun perasaan kagum itu kusembunyikan, aku tidak ingin Kalli menjadi besar kepala di depanku. (hal. 35)
*      Cantik
Kutipan novel:  
Kalli mengambil sebatang rokok persediaannya dan kembali mengepulkan asap ke udara lewat bibir mungilnya yang sedeikit menghitam. Walau begitu, wajahnya sangat cantik dengan kulit kuning gading dan postur tubuh yang tinggi semampai. (hal. 37 & 38)
*      Misterius dan Unik
Kitipan novel:
“Besok pagi aku harus plang Bulu.”
Aku terkesima. Seorang perempuan yang misterius. Kejutan apalagi yang dilakukan Kalli? Aku sangat sulit memahami sosoknya yang unik itu. Satu detik ucapannya bisa berubah.(hal. 41)
*      Tegar dalam mengisahkan sejarah hidupnya yang begitu menyakitkan.
Kutipan novel:
Aku memandang lekat-lekat ke dalam bola mata Kalli untuk meyakinkan bahwa dugaanku benar: aku sedang berhadapan dengan seorang perempuan tegar yang beru pertama kali kulihat seumur hidupku. (hal. 52)
*      Modern dan merdeka
Kutipan novel:
Tanpa aku sangka Kalli yang begitu merdeka dan modern bersedia melakukan ritual itu. Pengakuan kepada Merapu telah kami lakukan sayangnya aku telah melukainya dan dia telah pergi seusai ritual Tawwe Kabota itu. (hal. )
*      Setia  
Kutipan novel:
Aku telah mengubur masa laluku dalam-dalam, namun tangisan Eywi dan cerita tentang kesetiaan ibunya membuatku mengingat… (hal. 90)
*      Cerdas
Kutipan novel:
“Aku kurang paham dilahirkan dibagian mana dari sudut bumi ini. namun ayah dan ibuku orang Indonesia. Ibuku seorang perempuan cerdas dan selalu menjaga kesucian hidupnya sampai kematiannya. Ia mengasihi keluarganya dan memiliki satu cinta seumur hidupnya. Aku belajar banyak hal darinya, termasuk budaya Sumba yang menurut ibu terunik dan misterius.” (hal. 91)
                                          d.            Rato Boru adalah tokoh tambahan
*      Baik
Kutipan novel:
Rato Boru mengatakan pernah melihat Kalli di daerah Anakalang. (hal. 25)
                                           e.            Umbu Toga dan Rambu Lintang adalah tokoh tambahan
*      Teman masa kecil tokoh Bulu. Baik
Kutipan novel:
Hal yang sama juga dikatakan oleh Umbu Toga dan Rambu Lintang suami istri teman semasa kecilku jika aku berlibur ke Anakalang. (pernah melihat Kalli di daerah Anakalang). (hal. 25)
                                           f.            Lali, Loru, Malli dan Pora adalah tokoh tambahan
*      Teman-teman karib Bulu. Baik
Kutipan novel:
Namun teman-teman karibku di Wewewa seperti Lali, Loru, Malli dan Pora mengatakan Kalli pernah mengatakan maksudnya ingin ke kampung Waingapu. (hal. 25)
                                          g.            Lede dan Ngongo adalah tokoh tambahan
*      Sahabat Bulu, baik
Kutipan novel:
Saya tidak dusta. Saya selalu lihat Kalli di Parengga Komina. Lade juga pernah melihatnya di Parengga Waimangura.(hal. 26)
                                          h.            Umbu Mehang adalah tokoh tambahan
*      Baik
Kutipan novel:
Semalam Umbu Mehang mengatakan melihat Kalli di kampung ini. (hal. 27)
                                            i.            Gissel adalah tokoh tambahan
*      Ramah dan cantik
Kutipan novel:
Kami bertemu dengan Gissel. Dia sangat ramah. Dan juga cantik…! Sangat cantik menurutku. (hal. 44)
                                            j.            Langgeng Pratomo adalah tokoh tambahan
*      Manager proyek, baik
Kutipan novel:
Oya, perkenalkan nama saya Langgeng Pratomo. Manager proyek ini untuk Indonesia bagian Timur. Saya akan menuntun bapak menyelesaikan administrasi, dan hal yang belum dilengkapi dan minggu depan bapak sudah mulai bekerja. Semua petunjuk teknis ada pada buku ini. (hal. 72)
                                          k.            Ibu Dora adalah tokoh tambahan
*      Kasir, baik
Kutipan novel:
Orang tuaku meninggal ketika Yvone sudah kuliah. Walau ibu Dora yang bekerja keras menghidupkan perusahaan ayah namun semua hak penuh keuntungan perusahaan jatuh pada keluarga kami dan masuk rekeningku sepeninggal ayah. Ibu Dora dan pekerja lainnya hanya mengambil bagian mereka berupa gaji pekerja. (hal. 78)
                                            l.            Jamie Bennet adalah tokoh tambahan
*      Suami ibu Dora. Baik
Kutipan novel:
Etos kerjanya yang mengagumkan telah memikat seorang pelanggan asing, Jimie Bennet seorang guru bahasa inggris yang mengajar disebuah sekolah misi Kristen di Sumba Barat. Jatuh cinta pada pandangan pertama membuat Jimie memutuskan menjadi warga Negara Indonesia.  Mereka menikah ketika pri asing itu sangat paham dengan cara ibu Dora memandang kehidupan. (hal. 77)
                                        m.            Yvone Bennet adalah tokoh tambahan
*      Cerdas  
Kutipan novel:
Yvone dengan kecerdasannya akan menjadi pengawas proyek kami dan member laporan pada kantor pusat yang bermarkas di Vancouver. (hal. 81)
*      Baik
Kutipan novel:
Gadis itu gelisah. Sorot matanya menekuni tanah. Yvone terlihat seperti seorang ibu yang sabar mengikuti setiap gerak anak gadisnya yang bertumbuh. Ya, mereka lebih mirip ibu dan anak, bukan sekedar sahabat. (hal. 95)
                                          n.            Eywi adalah tokoh tamabahan
*      Cantik dan sempurna
Kutipan novel:
Mataku melekat pada Eywi. Seorang gadis yang cantik. Sempurna. Dia tidak mungkin anakku. Namun semakin aku menatapnya aku merasa seperti sedang berhadapan dengan diriku sendiri. (hal. 95)
*      Cerdas
Kutipan novel:
Deq. Kesekian kalinya hatiku miris. Seandainya Kalli masih hidup dan mengandung anakku, pasti seumur Eywi.namun pasti tidak secantik dan secerdas Eywi. Bukankah kita telah melanggar sumpah Tawwe Kabota sehingga anak kita otomatis akan cacat dan merana…astaga! Tak mungkin, ini tidak mungkin! Anakku cacat apalagi gi…la! (hal. 93)

Pengarang menggambarkan watak tokoh dalam novel “Nama Saya Tawwe Kabota” secara dramatic (tak langsung).

3.   Latar/setting  
                                           a.            Latar tempat
*      Wewewa
Kutipan novel:
“Aku lelaki asli Wewewa, sama dengan kamu perempuan Wewewa. Walaupun kamu begitu modern, namun asal kita sama. Kita berdua dari keluarga yang sangat memelihara teguh adat Merapu turun temurun sejak nenek moyang kita. Aku tidak mungkin menipu dengan melakukan ritual Tawwe Kabota. (hal. 23)
*      Anakalang
Kutipan novel:
Rato Boru mengatakan pernah melihat Kalli di daerah Ankalang. Hal yang sama juga dikatakan oleh Umbu Toga dan Rambu Lintang, suami istri teman masa kecilku jika aku berlibur ke Anakalang. (hal. 25)
*      Waingapu
Kutipan novel (hal. 25):
Namun teman-teman karibku di Wewewa seperti Lali, Loru, Malli dan Pora mengatakan Kalli pernah mengatakan maksudnya ke kampung Waingapu.
*      Di pasar Komina Kecamatan Laratama
Kutipan novel (hal. 26):
Saat itu Ngongo pun meyakinkan bahwa ia pernah bertemu Kalli di pasar Komina Kecamatan Laratama.
      Saya tidak dusta. Saya selalu lihat Kalli di Parengga Komina.
*      Parengga waimangura
Kutipan novel (hal. 26):
Lede juga pernah melihatnya di Parengga Waimangura. Betul begitu Lede?
*      Sandalwood (Sumba)
Kutipan novel (hal. 27):
Bagi yang baru pertama menginjakkan kaki di tanah Sandelwood ini pasti akan berdecak kagum. Namun bagi penduduk setempat seperti aku, pemandangan eksotik  menikmatinya dengan perasaan biasa.
*      Universitas Udayana, Denpasar, Bali
Kutipan novel (hal.29):
Setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas di Sumba, Ghole meneruskan kuliah ke Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar-Bali.
*      Di Jakarta
Kutipan novel (hal. 29):
Aku telah lebih dahulu memilih jurusan Arkeologi di sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta.
*      Praigoli, Wanokaka, Sumba Barat
Kutipan novel (hal. 31):
Namun aku tidak memilih Wewewa, melainkan aku mengincar kampung Praigoli, Wanokaka, Sumba Barat sebagai daerah tujuan penelitianku.
*      Bukabani
Kutipan novel (hal. 33):
“Kamu bisa mengantarku ke Bukabani?” kata Kalli berganti topic.
*      Di kota Giza, Mesir
Kutipan novel (34):
Luar biasa, ternyata kamu mengerti jalan pikiranku. Seorang arkeolog pasti tahu tentang tiga piramida di kota Giza, Mesir yang berusia lebih dari empat ribu lima ratus tahun.
*      Pulau Tarimbang
Kutipan novel (38):
“Tetapi aku yakin kamu pasti tertarik. Menurut cerita kubur batu Praigoli sudah berumur lebih dari lima ratusan tahun dan di ambil dari pulau Tarimbang, sebuah pulau kecil yang berjarak lima puluh kilo meter dari Praigoli. Untuk memindahkan batu tersebut dari Tarimbang ke puncak Praigoli Cuma mengandalkan tenaga manusia.”
*      Perjalanan menuju hotel mewah kawasan Nusa Dua, Bali
Kutipan novel (44):
Gerimis mengetuk aspal jalanan ketika taksi membawa aku dan Ghole menuju suatu hote mewah di kawasan Nusa Dua, Bali.
*      Di lobi Hotel
Kutipan novel (48):
Aku begitu tersiksa. Di lobi hotel aku menemukan jawaban yang mengejutkanku. Ghole dan Gissel diamankan petugas hotel karena mabuk. Aku tak percaya. Bukankah di perayaan ini tidak di hidangkan anggur dan miniman keras lainnya?
*      Bar Hotel
Kutipan novel (48):
Aku membawa hatiku nelangsa ke bar hotel. Aku minim hingga mabuk.
*      Pulau Dewata (Denpasar-Bali)
Kutipan novel (hal. 50 & 60):
Seminggu sudah aku dan Kalli bertemu kembali walau kalli ini di bawa langit pulau Dewata.

Begitu kami pun akrab. Dan selama sepekan bersamaku di Denpasar, Bali, tepatnya sejak percakapan terakhir kami, Kalli mengajukan pertanyaan.
*      Di Nusa Tenggara Timur
Kutipan novel (hal. 60):
Tugas bapak memberikan laporan bersifat edukasi tentang segala hal yang berkaitan dengan budaya hulu, keberadaan arkeologi di setiap perkampungan adat di Nusa Tenggara Timur,khususnya Sumba dan segala aspek budaya yang menyaertainya.
*      Kamar mandi
Kutipan novel (hal. 74):
Bahkan kamar mandi pun sedikit di renovasi dengan member sentuhan ubin pada dindingnya.
*       Ke Katikutana
Kutipan novel (hal. 75):
Bukan hanya mesin tik yang pindah ke tanganku, namun aku pun pindah dari rumah orangtuaku di Wewewa ke Katikutana dan membangun sebuah rumah sederhana yang ku tempati hingga sekarang.
*      Selat pantar
Kutipan novel (hal. 78):
Nasib na’as menimpa Jimie, Selat Pantar dan ombak sangat ganas. Cuaca semakin buruk dan kapal ferry itu kandas diterpa badai. Semua penumpang, termasuk Jimie hilang hingga hari ini.
*      Di Vancouver
Kutipan novel (hal. 81):
Yvone dengan kecerdasannya akan menjadi pengawas proyek kami dan member laporan pada kantor pusat yang bermarkas di Vancouver.
*      Dapur
Kutipan novel (hal. 81 & 86):
“Akan ku buatkan minumani dingin, dan roti selai karena udara cukup panas,” Eywi menawarkan sambil menuju dapur dengan tepat karena di pintunya tercetak huruf capital DAPUR.
*      Kampus British Colombia
Kutipan novel (hal. 82):  
“Sebenarnya museum hanyalah bagian dari kampus British Colombia yang sangat luas, terletak di sebuah bukit di ujung barat Vancouver empat ratus hektar di tepi laut. Di sebelah utaranya English Bay, dan di sebelah Barat Selat Georgia, yang memisahkan Vancouver dengan pulau Vancouver.”
*      Rumah ibu Dora
Kutipan novel (hal. 83):
Tidak ada banyak hal yang menarik ketika makan siang tiba dan kami menuju rumah ibu Dora. Menu makan siang kami sangat menggugah selera, yakni jagung bose, daging se’I, ikan bakar besar serta sambal mentah, seikat sipak dan daun kuenter yang diiris dan kemudian di campur menyatu dengan segenggam Lombok padi yang diulek dan diberi perasan jeruk nipis. Teramat pedas dan nikmat.
*      Chinatown
Kutipan novel (hal. 83):
“Sebelumnya ibuku bekerja di sebuah warung Indonesia di kawasan Chinatown namun Cuma sebulan karena ibu pindah ke sebuah toko bahan makanan oriental, sayuran, kacang-kacangan, termasuk jagung dan beras.
*      Di toko
Kutipan novel (hal. 84):
Di toko itu, semua bahan sambal ini di jual di sana, Eywi tersenyum menunjuk pada hidangan di atas meja.
*      Ruang tamu
Kutipan novel (hal. 86):
Menuju ruang tamu dengan kopi di tangan dan beberapa lembar tulisan, tanpa sengaja aku memandang di kaca besar yang tergantung di ruang antara dapur dan ruang tamu. Wajahku begitu kusam, rambutku sudah memutih sebagian dan tubuhku sudah sedikit bongkok.
*      Granville-Teluk False Creek
Kutipan novel (hal. 87):
“Jika aku kembali nanti, aku tidak ingin ada orang yang melupakan sejarah itu bahwa di jembatan Grenville yang menyebrangi teluk False Creek ada seorang perempuan Indonesia gantung diri di situ hanya karena permintaannya di tolak anaknya…”  
*      Dilantai rumah & di pojok ruang
Kutipan novel (hal. 105):
Aku akhirnya meringkuk di tempat, duduk di lantai rumah itu. Laki-laki bangsawan itu mematung di pojok ruang.  
                                          b.            Latar waktu
*      Tahun
Kutipan novel:
·         Dua tahun setelah Kalli pergi aku pernah bertemu Lede dan Ngongo di pasar Laura saat aku hendak membarter hasil panen ubi kayuku dengan garam, sayur dan sirih pinang dan dua sahabatku itu mengatakan pernah melihat Kalli di pasar sedang membarter pula. (hal. 25)
·         Dua tahun menikah dikarunia seorang anak perempuan yang diberi nama Yvone Bennet. (hal. 77)
*      Bulan
Kutipan novel:
·         Ah, sebenarnya aku juga pernah menghabiskan enam bulan dari waktuku untuk mencari Kalli. (hal. 26)
·         Telepon bordering. Suara ibu Dora di telepon. Sungguh mengejutkan karena sudah cukup lama kami tidak berkomunikasi sejak natal tahun lalu. Ya, enam bulan. (hal. 79)
*      Malam
Kutipan novel:
·         Aku pernah lintang-pukang di kedua pasar tersebut. Bahkan pernah semalam penuh aku tidur di bawah sebatang pohon yang biasanya dipakai pedagang untuk menggelar barang dagangannya namun hingga mengigil kedinginan pun aku tidak menemukan Kalli.(hal.26)
·         Semalam Umbu Mehang mengatakan melihat Kalli di perkampungan ini.(hal. 27)
·         “Perayaan malam Austria. Teman saya ketua panitianya. (hal. 43)
·         Sepanjang malam ini aku bersama kamu, ular…Palakawata,eh…Bulu.”(hal. 50)
·         Yang membuatku semakin tersiksa dan teramat menyesal adalah suatu malam, di akhir liburannya di Sumba, aku telah melakukan “kesalahan” pada Kalli. (hal. 65)
·         Hingga malam ini pun dua orang yang di janjikan pak Langgeng Pratomo tidak muncul juga. (hal. 79)
·         Malam harinya aku dikejutkan dengan suara tangis. (hal. 85)
·         Malam harinya ibu menitipkan aku pada Horhenzia seorang penjual bunga, teman ibu, dengan izin membeli makanan.namun tidak pernah kembali. (hal. 88)
·         “Kau telah membeli kehidupanku, perempuan bajingan! Dan mala mini baru aku tahu semuanya.” (hal. 104)
·         Namun malam ini, di penghujung usiaku sebutan itu dilekatkan kembali padaku bukan oleh warga kampung namun seorang perempuan. (hal. 104)
·         Aku tahu betapa laki-laki itu berjuang mempertahankan isteri yang dicintainya, namun malam ini dia mendapatkan kenyataan pahit, sang isteri telah menipunya. (hal. 105)
·         Malam kian larut. Aku terus berjalan mengelilingi kampung. (hal. 107.      
*      Minggu
Kutipan novel:
·         Seminggu sudah aku dan Kalli bertemu kembali walau kali ini dibawa langit pulau Dewata. (hal. 50)
*      Hari
Kutipan novel:
·         Dan hari ini… untuk kesekian kalinya aku mencari Kalli setelah dua tiga helai uban di kepalaku tumbuh. (hal. 27)
·         Namun hari ini, aku mulai memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang lumayan besar. (hal. 73)
·         Dan sekarang ini aku telah bekerja. Senang sekali rasanya. Hari pertama bekerja cukup melelahkan. (hal. 79)
·         Dini harinya tubuh itu retak-retak di temukan di Grenville Island oleh para pekerja malam di sebuah pasar bawah jembatan. (hal. 89)
·         Aku akan mengerjakannya hari ini dan setelah itu aku minta izin ke Bukabani. Boleh bukan? (hal. 92)
*      Jam
Kutipan novel (hal. 92):
Dua menit berikutnya setelah sarapan, kami sibuk dengan tugas masing-masing.
*      Pagi
Kutipan novel:
·         “Besok pagi aku harus pulang, Bullu.” (hal. 41)
·         Pagi yang cerah ternyata. Yvone dan Eywi menungguku di meja makan. (hal. 91)
*      Sore
Kutipan novel:
Seorang pengawas dan seorang pembantu umum akan datang sore ini, Langgeng pratomo telah menjabat tangan saya dan pergi membiarkan saya melongo dan mengucapkan selamat jalan dengan suara yang tertahan dikerongkongan. (hal. 74 & 75)
                                           c.            Latar sosial novel “Nama Saya Tawwe Kabota” adalah adat Sumba (Tawwe Kabota).
Kutipan novel:
Ata Bana Merapu telah memasuki Aura Kallena’dana. Terlihat disekeliling pagar daerah suci dan pamali itu, lumut tumbuh menghijau. Tepat di tengah-tengahnya sebuah tugu batu berbentuk menhir berdiri kokoh, sekokoh cintaku pada Ghole…(hal. 17)
4.   Alur/plot
Plot dalam novel “Nama Saya Tawwe Kabota” adalah
v  Eksposisi
*      Perkenalan tokoh Bulu dengan Ghole yaitu isteri rumahnya
Kutipan novel:
Aku telah terikat adat dengan Ghole, anak pamanku. Setamat sekolah Menengah Atas di Sumba, Ghole meneruskan kuliah di Fakultas Kedokteran universitas Udayana, Denpasar, Bali. Aku terlebih dahulu memilih jurusan arkeologi di sebuah universitas swasta terkenak di Jakarta. Semua kerabat dn sahabat tahu bahwa Ghole “isteri rumah”-ku. (hal. 29)
*      Perkenalannya dengan Kalli
Kutipan novel:
 “Bulu, selama ini Sumba bagiku adalah negeri antah berantah. Tapi sekarang di negeri Merapu ini aku telah menghirup udaranya. Aku tidak sedang bermimpi bukan?” itulah yang diucapkan Kalli ketika kami pertama kali bertemu. (hal. 32)
*      Perkenalannya dengan Gissel
Kutipan novel:
Gissel ternyata tidak hanya ramah dan cantik dalam juga sedikit merdeka dalam berbicara. Perkenalanku yang singkat dengannya ternyata mampu memberikan gambaran padaku tentang Austraria, terutama masakannya. (hal. 45)
*      Perkenalanya dengan Pak Langgeng Pratomo
Kutipan novel:
“Oya, perkenalkan nama saya Langgeng Pratomo. Manager proyek ini untuk Indonesia bagian Timur. Saya akan menuntun bapak menyelesaikan administrasi, dan hal lain yang belum dilengkapi da minggu depan Bapak sudah mulai bekerja. Semua petunjuk teknis ada pada buku ini.” (hal. 72)  
*      Perkenalannya dengan Eywi
Kutipan novel;
“Kenapa heran ya?” Yvone tersenyum memecahkan sunyi di antara kami.
“Eywi.”
“Bulu.”
Aku keliru. Ternyata Yvone datang untuk bekerja bersamaku. (hal. 80)
v  Komplikasi
*      Kergian Kalli
Kutipan novel:
Ya, Kalli pergi!
Benar-benar pergi! Tidak hanya dari hadapanku tetapi perempuan itu telah pergi jauh dari Wewewa. Herannya, tak ada yang bisa mencegahnya termasuk tanganku pun tak bisa mencegahnya. Apalagi hatiku. (hal. 24)
*      Berlibur ke Denpasar, Bali
Kutipan novel:
      “Sayang, kamu datang pada waktu yang kurang tepat.”
Aku mengerenyitkan kening. Sedikit tersinggung, tapi tidak kuperlihatkan. (hal. 42)
*      Pertemuan kembalinya dengan Kalli
Kutipan novel:
SEMINGGU sudah aku dan Kalli bertemu kembali walau kali ini di bawa langit pulau Dewata. (hal. 50)
*      Kedatangan Yvone dan Eywi
Kutipan novel:
      “Pak Bulu, ini Yvone. Apa kabar?” Yvone telah mendahului berbicara sebelum aku mengeluarkan sepatah kata pun.
      “Baik. Sangat baik malah! Pindah kerja ke Indonesia?”
      “Aku kembali ke tanah airku. Aku kangen ibu dan juga Pak Bulu.” (hal. 79)
*      Pertemuan kembalinya dengan Ghole
Kutipan novel:
      Perempuan itu mengusirku, sebelum suaminya menangkap tubuhnya dengan kuat. Dan astaga Ghole! Ya, Ghole, perempuan masa laluku yang penghianatannya dengan Gissel telah menghancurkan hatiku. (hal. 106)
v  Konflik
*      Penghianatan Ghole dan Gissel
Kutipan novel:
      “Pasangan lesbian ini sering mabuk dan bikin ulah. Kami sering kewalahan menangani mereka,” suara satpam hotel menancap di hatiku setelah itu menembus jantungku. Merobeknya berserahkan. (hal. 48)
*      Perasaan bersalah

Kutipan novel:
Hatiku semakin sedih. Perasaan bersalah semakin kuat mencengkramku. Membayangkan Kalli harus berjuang seorang diri mendidik dan membesarkan Eywi sambil terus meyakinkan bahwa anakku itu memiliki seorang ayah bernama Bulu. Sungguh, hal yang tidak pernah kupikirkan. (hal. 98)
v  Klimaks
      Ayah tokoh Bulu  telah berhasil keluar dari tempurung hamba sahaya, dan telah mengubur masa lalunya dalam-dalam. Dan kini di penghujung usianya kembali dengan sebutan ata’da dilekatkan kembali oleh seorang perempuan yang tidak lain adalah Ghole, perempuan yang pernah dicintai Bulu.

Kutipan novel:
      “Kasihan Bu, aku menemukannya di jalanan. Dan orang-orang kampong meneriakinya…”
      “Dia pasti ata’da.”
      “Jangan pernah kau menyebut kata budak di depanku, itu terlalu kasar!! Tidak pernah sekalipun aku menyebut kata itu dihadapanmu, selama pernikahan kita. Padahal kalau aku mau, aku pun bisa meneriakkan kata itu1” (hal.101)
v  Penyelesaian
Bulu menyebut dirinya Tawwe Kabota

Kutipan novel:
“Saya? Tawwe Kabota?” suaraku seperti hendak lepas. Aku tersenyum dal menjawab sendiri pertanyaanku. “Ya, benar, nama saya Tawwe Kabota. Mungkin lebih baik begitu,” aku terseyum sumringah. (hal. 108)

Berdasarkan plot diatas maka alur dari novel ini adalah campuran.
5.   Sudung pandang
      Sudut pandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh yaitu sudut pandang persona pertama (Aku) yaitu penulis terlibat secara langsung didalam karya yang ditulisnya.

Kutipan novel:
Aku menjadi sangat putus asa. Kurobek kulit wajahku karena mungkin lebih baik aku tidak berwajah. Kukuliti tubuhku, mungkin lebih baik aku tidak memiliki tubuh. Dan sebuah suara meneriakiku, “Hei lihat… itu ata’da suara-suara itu semakin banyak. Aku terlempar pada lautan suara. Aku berputar pada pusaran bumi, sebuah suara lembut memanggilku.
6.   Amanat
      Amanat atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang yaitu
v  Pengarang ingin agar kita selalu optimis
v  Pengarang juga menyampaikan bahwa kita juga harus memiliki keiklasan diri atau iklas melalukan sesuatu hal untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
v  Pengarang juga ingin agar kita selalu setia dan sabar dalam menghadapi semua persoalan dalam kehidupan kita
v  Pengarang juga ingin agar kita selalu memaafkan orang lain dan senantiasa bersyukur.

Kutipan terdapat dalam catatan penutup pengarang:
Optimisme, keiklasan diri, kesetiaan, ketabahan, kekuatan untuk memaafkan,senantiasa bersyukur… itulah nilai-nilai yang kucoba membingkainya dalam Nama Saya Tawwe Kabota. (hal. 115)
7.   Gaya bahasa
      Gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam novel ini adalah gaya bahasa sendiri yaitu dalam novel ini terdapat penggunaan bahasa daerah (Sumba).

      B.        UNSUR EKSTRINSIK
1.      Biografi pengarang
            Mezra E. Pellondou lahir di Kupang 21 oktober 1969. Saat ini tinggal di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Guru pada SMA Negeri 1 Kupang, dan mengajar jurnalistik pada Universitas PGRI. Ia menulis puisi,cerita pendek, novel dan cerita anak. Sebelumnya adalah wartawan Harian Umum Pos Kupang, wartawan Harian Umum Nusa Tenggara Denpasar, dan pernah memmimpin Tabloid Marturia dan mendapat penghargaan sebagai tabloid terbaik 2001. Mezra pernah pula memenangkan Sepuluh Karya Tulis Terbaik Pesta Kesenian Bali (1995) di Denpasar.
            Cerpennya, “Manusia-Manusia Jendela” (2006) yang bersetting daerah perbatasan NTT Timur Leste meraih pemenang pertama Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) kategori regular, yang diselenggarakan Ditjen Mandik dasment Bagian Peningkatan Perpustakaan Sekolah,  Depdiknas RI dan dibukukan dalam buku Dua Puluh Lima Naskah Cerpen Terbaik LMCP. Dua cerpen lainnya,”Roman de Cruz Suamiku” (1999) dan “Mario” (1996) yang bersetting Timor-Timur dan detik-detik jejak pendapat, serta sebuah novel, Surga Retak (2007) mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat pembaca dan mendapat tempat untuk di pamerkan akademik yang di selenggarakan oleh Badan Perpustakaan Daerah NTT (2007).
            Ulasan mezra terhadap 100 puisi Taufikq Ismail Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia yang diberinya judul “Naturalisme Anafora dan Epifora, Suatu Pencaharian Peta Tuhan” meraih penghargaan dua puluh naskah terbaik mengulas buku sastra dalam Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) (2005) kategori regular yang diselenggrakan Ditjen Mandiknasmen, Bagian Peningkatan Perpustakaan Sekolah, Depdiknas RI dan dibukukan Depdiknas sebagai naskah terbaik.
            Noveletnya “Pulang” (2000), dan “ Klise Hitam Putih” (2002) mendapat penghargaan sayembara menulis Cerber Majalah Fenina. Dan beberapa cerpennya lolos buat di Majalah Femina, satu diantaranya “Sehelai Kain Buat Ibu”. Cerpen “Maria” (1993) menjadi Pemenang Lomba Menulis Cerpen se-Indonesia yang diselenggarakan Majalah Bahana bekerjasama dengan Universitas Dr. Soetomo, Surabaya. Cerpenya yang lain, “Pariyawang” dimuat di Jurnal Cerpen edisi 9/2008.
            Mezra ikut membidani beberapa Bengkel Sastra di Kupang: Bengkel Sastra Lima Belas (sekarang tidak terlalu aktif) dan beberapa Bengkel Sastra Sekolah: Lentera (2005) dan Amsal Putih (2008), juga membidani beberapa pernerbitan sastra mahasiswa di antaranya mutiara sastra kita: MARKAS (2008).
            Puisi-puisi Mezra: “Aku Telah Menjadi Beo”, “Janji”, Bahasa Langit”, “Sebuah Ziarah Pukuafu”, masuk dalam Antologi Puisi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia kota Kupang (2005) hasil Festival Musikalisasi Puisi Bengkel Sastra bekerjasama dengan Pusat Bahasa Depniknas RI. Mezra juga aktif sebagai peyiar radio di CaVe Rohani 97,6 fm sebuah acara dengan title Inspirasi dan Motivasi yang bertujuan menginspirasi dan memotivasi orang untuk terus berkarya dengan kehidupan yang lebih baik. Ikut membidani sebuah tabloid komunitas di Kupang LASKAR (2008) dan dipercayakan sebagai wakil pimpinan redaksi. Ia aktif sebagai juri pada kegiatan sastra dan minat baca, juga berbagai ajang festival sastra, penulisan kreatif dan teater.
2.      Agama/keyakinan
Keyakinan pengarang adalah kepercayaan pengarang kepda Tuhan Yesus Kristus membuatnya berhasil menjadi seorang  penulis.
3.      Keadaan subjektivitas pengarang adalah mencari hal-hal yang baru sehingga menerobos sastra modern dengan karya-karyanya.         
4.      Pandangan hidup pengarang adalah pengarang berpandangan hidup ke depan sehingga bisa meneroboskan karya-karya yang yang bernafaskan adat Sumba.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar